Artikel diambil dari Buku ‘ Ki Hadjar Dewantara: Pemikiran, Konsepsi, keteladanan, Sikap Merdeka ‘ II (Kebudayaan).
Yang dinamakan ‘kultur‘ atau ‘kebudayaan‘ (Jawa, kabudayan) yaitu buah dari keadaban manusia.
Oleh karena ‘adab’ itu sifatnya keluhuran budi, maka buah-buah dari keluhuran budi itu lalu dinamakan budaya.
Adapun perkataan “kultur” itu asalnya dari bahasa Latin (colere, cultiware) yang berarti ‘menguasahakan’, yakni mengusahakan untuk mendapat kemajuan hidup.
Perkataan ‘kultur‘ itu juga dipergunakan dalam arti usaha bercocok tanam dengan memakai daya upaya dan cara-cara ilmiah untuk membesarkan hasilnya.
Kultur atau kebudayaan itu sifatnya bermacam-macam, akan tetapi oleh karena semuanya adalah buah adab, maka semua kebudayaan atau kultur itu selalu bersifat: tertib, indah, berfaedah, luhur, memberi rasa damai, senang, bahagia dan sebagainya. Sifat-sifat itu terdapat dan terlihat di dalam perikehidupan manusia-manusia yang sudah beradab: misalnya di dalam perusahaan tanah, pemerintahan negeri, ada istiadatnya, caranya membuat rumah dan pakaian, caranya kawin, mendidik anak-anak, dalam segala kepandaian dan perbuatan (kerajinan) dalam kesenian (musik, tari, drama, ukir-ukiran), gambaran, membuat patung, dan sebagainya), dalam bahasanya dan kesusastraaanya, dalam cara membuat makanan-makanan, begitulah seterusnya.
Jadi sudah teranglah. ‘kultur’ itu artinya sama dengan pengertian usaha perbaikan hidupnya tanaman, dan dalam ilmu-adab terpakai dalam arti usaha perbaikan hidupnya manusia.
Maka dari itu lalu teranglah, bahwa sifatnya kultur itu selalu menjadi tanda dan ukuran tentang rendah tingginya keadaban dari masing-masing bangsa.
Wasita, Pebruari 1936 Th. ke-II No. 2