Sabtu, 31 Agustus 2024 | Nanang Bagus Subekti – Lensa Edukasi. Workshop Pengelolaan Media Sosial Sekolah seharusnya menjadi agenda kegiatan yang harus masuk dalam kegiatan rutin sekolah, khususnya sekolah swasta. Mengapa kegiatan pengelolaan media sosial sekolah ini penting? Saya akan menguraikan alasannya satu per satu. Tulisan ini dibuat berdasarkan fakta yang saya jumpai di masyarakat.
Pertama: Media sosial menjadi alat paling efektif untuk publikasi berbagai informasi terkait sekolah, seperti informasi umum, prestasi, materi pelajaran, informasi lowongan pekerjaan untuk siswa dll. Masyarakat modern mencari informasi mempergunakan mesin pencari (search engine), media sosial seperti YouTube, TikTok, Instagram, Facebook, X, website berita dan semua aplikasi online. Dari fakta perilaku masyarakat modern ini bisa disimpulkan jika membuat konten online / media sosial untuk sekolah adalah suatu kebutuhan sehingga sekolah akan semakin dekat dengan kehidupan masyarakat. [Baca: 5 Alasan Ngonten]. Sekolah harus mulai beralih dari promosi konvensional dengan mencetak banyak brosur berganti dengan produk-produk digital
Kedua: Media sosial adalah alat promosi yang murah dan efektif. Dari pengamatan saya di beberapa sekolah, saya menyimpulkan jika sekolah swasta yang mampu mengelola media sosial dengan baik mampu survive dan bertahan dalam persaingan mendapatkan murid baru. Sekolah yang baik akan melihat bahwa promosi harus dilakukan sepanjang waktu, tidak bersifat insidental hanya beberapa bulan sebelum pelaksanaan PPDB sekolah. Salah satu tujuan kegiatan promosi sekolah adalah membangun persepsi atau branding kepada masyarakat tentang sekolah sehingga dikenal dan diingat oleh masyarakat. Kegiatan membangun persepsi yang kuat tentang sekolah tidak bisa bersifat sementara, tetapi harus terus menerus sehingga masyarakat menyakini jika sekolah tersebut adalah sekolah yang berkualitas baik.
Ketiga: Kebijakan Pengelolaan Media Sosial Sekolah. Alasan ketiga ini terkait dengan kebijakan sekolah. Pengelola sekolah dituntut untuk memiliki kebijakan yang bersifat adaptif, fleksibel dan jelas. Kebijakan sekolah sebaiknya mengarah kepada pencapaian kemajuan sekolah, bukan mempertahankan ego / idealisme yang justru membuat sekolah tersandera dan tidak maju sehingga kalah bersaing. Sekolah-sekolah harus mampu melepas nostalgia kebesaran masa lalu dan melihat situasi terkini. Apalah artinya suatu sekolah memiliki filosofi hebat, gedung megah tetapi tidak mampu menjadi daya tarik bagi calon siswa baru sehingga penerimaan muridnya setiap tahun terus merosot. Fakta di lapangan dijumpai jika kehidupan sekolah swasta ditopang oleh pembayaran para siswa sehingga jika jumlah murid baru terus menurun, maka pendapatan sekolah akan menurun yang berdampak pada biaya operasional sekolah.
Dari ketiga alasan di atas, saya melihat fakta bahwa tidak semua sekolah memanfaatkan media sosial dengan baik. Media sosial tidak dikelola dengan maksimal dan dipergunakan sebatas identitas supaya tidak dicap sebagai sekolah yang jadul. Sekolah swasta yang baik dan berkembang memiliki media sosial yang baik, sedangkan sekolah yang tidak berkembang memiliki media sosial yang terbatas bahkan cenderung dikelola ala kadarnya.
Fakta-fakta minimnya pengelolaan dan penggunaan media sosial di sekolah telah mendorong saya untuk berbagi pengalaman dengan sekolah-sekolah yang membutuhkan bantuan atau pendampingan teknis cara mengelola dan memanfaatkan media sosial dengan baik. Workshop pendampingan pengelolaan media sosial sekolah bisa dilakukan secara luring dan daring, menyesuaikan dengan situasi dan kondisi.